Diam Itu Emas ! || Silent is Gold 🌟

By Elisabeth Gultom - 12:28:00 AM

 Hi everyone,

Kali ini aku mau sharing my personal random talk. 
Kita semua pasti pernah memiliki masalah dalam hidup, apapun itu persoalannya. Sebagai orang yang extrovert, saat ada masalah biasanya aku akan berubah menjadi sosok yang introvert. banget! Terkadang aku mikir apakah ini kekurangan atau kelebihan. Bagi aku, when i have a problem with someone it's time for me to be quiet from them.

Aku sudah pernah melakukannya, salah satunya dengan orangtua ku sendiri. Believe or not, waktu itu aku pernah salah paham sama papa ku dan finally kita diem-dieman almost 6 months loh! Can you imagine? Sama orangtua sendiri dan itu SERUMAH! Hahah ya i know this is lil bit weird. Ya aku tau ini lebay banget. Perlu kalian tahu, selama 6 bulan itu aku masih tetep menghargai beliau kok sebagai orangtua, masih care, peduli dan tetap mendoakan yang terbaik walaupun tidak menujukannya didepan. Cuma ya at the end kita gapernah ada kata baikan, tapi momentum lah yang emang bikin kita bisa seperti biasa lagi dan ngobrol tanpa ada perasaan marah, kesel ataupun gengsi.

Nah pasti akan ada aja orang yang berpendapat kalo diem itu gak menyelesaikan masalah. Aku setuju,dan gak bilang itu salah. But somehow i dont agree. Here's the point. Aku punya beberapa alasan yang menurut aku masuk akal kenapa sih saat kita ada masalah kita perlu diam sejenak

1. REFLEKSI

Pernah gak lagi sama orang tapi bingung mau ngomong apa, akhirnya kalian cari topik menarik supaya gak awkward?
Pernah gak pas lagi di kamar sendiri, tapi kalian berusaha nyalain TV or Music Player supaya gak terlalu sepi?
Tanpa kita sadarin, dalam keheningan itu sebenernya kita sedang dilucuti dari semua distract atau gangguan dan pada akhirnya kita akan bertemu dengan diri kita sendiri. Bingung ya? Haha bagus berarti kalian nyimak tulisan aku. Oke aku lanjutin ya. 

Nah jika kita gak nyaman dengan keheningan kita sendiri seperti 2 contoh diatas yg aku mulai dengan kata "pernah gak..." itu karena kita sedang ngerasa gak aman dengan apa yang kita rasakan.
Begitu kita merasa nyaman dengan keheningan, disitu kita akan menemukan bahwa keheningan telah menyambut refleksi dalam diri kita. Itulah yang aku rasakan pribadi, disaat aku ada masalah dan aku memilih untuk diam

Masalah itu ga akan pernah ada habisnya. Kalo boleh agak sedikit berkhotbat, saat kita dikasih masalah itu tandanya Tuhan masih sayang loh sama kita karna kita sedang diuji oleh-Nya. Nah Tuhan lagi mau lihat aku nih nih seberasa fight sih aku untuk ngelewatin masalah itu. Sebagai org kristiani, aku sih percaya banget dengan kata-kata ini "Tuhan tidak akan kasih cobaan yang melampaui kemampuan ciptaan-Nya" So setiap aku ada masalah selalu aku bawa dalam doa setelah itu aku ngerasa tenang dan gak mau ngomong apa-apa lagi termasuk sama orang-orang yang relate dengan masalah itu. Lalu aku bisa nenangin diri dan akan aku jadiin bahan perenungan 
kenapa mengapa serta bagaimana it could be happened ? For the last, how i can survive and solve the problem?

Jadi refleksi disini aku menilai apapaun peristiwa/kejadian yang telah aku lalui, lalu aku pikirkan dan rencanakan apa yang akan dan baiknya aku lakukan. Baik untuk sekarang juga kedepannya nanti demi memperbaiki keadaan. Simple nya mau ngapain sih kedepannya setelah we're keep silent. 
Sampe kapan sih silent nya? I never know. Selama aku masih menjunjung tinggi gengsi diatas segalanya, aku paling anti untuk memulai duluan kecuali orang itu layak ataupun dia duluan yang memulai. Aku akan welcome dan menghargai orang yang memiliki etikad baik. Terbukti kan aku baikan sama papaku aja bisa sampe 6 bulan, itu karna dia pun GENGSI-an juga. Hahaha. Semoga kalian tidak segengsi aku, dan jangan sampe. Kadang gengsi itu menyakitkan loh. 
Nah, apapun rencananya sudah pasti sesuatu yang akan merubah keadaan jadi LEBIH BAIK. Tidak hanya untuk aku, tapi untuk orang lain pastinya.

 Dengan masalah yang kualami, aku bisa lebih bersahabat dengan diriku melalui diam..

 2. Be Wise 

 “Ketika banyak kata, dosa tidak ada, tetapi dia yang memegang lidahnya adalah bijak.” ~ Amsal 10:19.

Bagi aku kata-kata itu merupakan suara yang keluar dari mulut dan bisa seenaknya tanpa perlu melakukan apa-apa. Disitulah kata-kata jadi berbahaya karna bisa menyakitkan. So, that's why bagi aku keheningan itu menjadi emas disaat kata-kata bisa membunuh seseorang secara tersirat. 

Saat masalah datang aku memilih untuk tenang karna itu kunci untuk berfikir jernih. Apapun masalahnya perlu hati dan pikiran yang tenang agak dapat terselesaikan. Biasanya cewek itu kan dinilai egois apalagi kalau sudah berhubungan dengan perasaan. Sebagai seorang wanita yang sudah tidak muda lagi  (tapi gak tua juga ya) dan sedang mengejar karir kesuksesanku bukan berarti aku tidak mencari pasangan hidup. Semakin aku meningkatkan kualitas diri dan taraf hidupku, semakin itu pula aku akan menetapkan standar pasanganku kelak. Oleh karna itu aku tidak bisa memaksakan keadaan disaat banyaknya undangan yang datang dari sahabat, keluarga dan pertanyaan-pertanyaan kurang sopan seperti "kapan nikah?" Atau memaksakan orang memiliki perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan. Satu hal yang aku yakini, aku sadar mungkin aku saja yang belum dipertemukan karna aku yakin orang yang tepat akan datang diwaktu yang tepat.  Try to love yourself first then you can love other! 

Jadi setiap aku bangun pagi biasanya aku berbicara didepan kaca, eh salah maksud aku cermin. Walaupun mungkin keadaanya sudah berubah karna masalah itu, orang-orang yang memang peduli dan sayang sama kita pasti akan datang dengan sendirinya tanpa diminta dan ditunggu. Aku selalu menyemangati diriku untuk terus tetap tersenyum karna pasti akan ada selalu keajaiban yang akan terjadi tiap harinya kalau kita selalu berfikir positif. Tidak perlu update di sosial media apapun, hanya perlu kita sendiri yang tau dan menikmatinya untuk diri kita sendiri dan orang didekat kita. Disitulah letak kebahagiaan sesungguhnya based on my version.

Dengan diamnya aku, aku bisa tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan biijaksana..

 3. Take Decision

Point terakhir ini merupakan lanjutan atau sambungan dari poin sebelumnya sebenernya. 
Saat refleksi pasti kita akan berfikir yang membuat kita menjadi wise. Bagi aku berfikir sebelum bertindak tidak membuang waktuku sama sekali. Justru itu lah yang buatku jadi sosok yang lebih bijak. Memikirkan sesuatu sebelum melakukan itu penting agar tidak salah langkah hingga akhirnya nanti berujung penyesalan. Aku percaya semua masalah pasti ada jalan keluarnya. 
Tidak terasa aku pun sekarang sudah seperempat abad. Kalo boleh jujur aku gak nyangka waktu berjalan begitu cepat. So aku semakin kesini semakin menghargai yang namanya waktu. Waktu gapernah bisa diputar ulang. Jadi setiap aku menyikapi masalah biasanya aku benar-benar fikirkan baik-baik karna ya u know lah masalah tiap orang beda dan pasti kayaknya gak cuma satu. Bisa dari keluarga, pertemanan, pekerjaan atau mungkin dengan pasangan. Masalah itu semua bisa saja terjadi diwaktu yang bersamaan. Hidup tidak bisa balance disegala aspek, kita harus tau mana prioritas kita saat ini. Mana yang harus aku selesaikan saat itu pasti akan ku selesaikan, tapi ada saat dimana ada masalah yang bisa aku pending, ya aku harus tinggalkan dulu untuk sesaat. 

For the last, i'm ready to take descision. Ketika aku ada masalah aku harus berani mengambil keputusan dengan tidak emosi. Itulah kenapa sebabnya, ada kalanya aku memilih untuk diam. Keputusan apa yang aku ambil, menurutku tidak ada yang salah. Justru dari situlah aku bisa belajar bagaimana aku dapat menghargai masalah dan menyelesaikannya dengan caraku, serta belajar dari masalah itu. 
Keputusan yang kuambil, telat kufikirkan dalam diamku...






  • Share:

You Might Also Like

0 comments